Rabu, 07 Oktober 2009

Skripsi Sistem Informasi

Skripsi Analisa Dan Desain Sistem Informasi Pembelian Dan Penjualan Barang Dengan Aplikasi Visual Basic 6.0

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam rangka pencapaian program kerja dan peningkatan kinerja perusahaan, hampir semua perusahaan berupaya untuk melakukan perubahan terhadap sistem kerja yang sudah ada karena sistem yang diterapkan hampir sudah tidak layak digunakan untuk kegiatan operasioal perusahaan terutama di dalam melakukan pengolahan data yang rumit dan bersifat rutinitas.
Toko X bergerak dalam bidang kelontong dan alat-alat tulis dan transaksi yang dilakukan setiap harinya cukup besar. Pada pengolahan data pembelian barang pengelola toko tidak membuatkan secara tertulis tentang biaya pembelian yang dilakukan, ini hanya dilakukan secara lisan kepada pemilik toko berdasarkan faktur pembelian. Hal ini menyebabkan tidak efesiennya pengelolaan biaya pembelian dan juga pemesanan barang dilakukan berdasarkan perkiraan tanpa mengetahui secara pasti stok barang yang ada. Sedangkan dalam pengelolaan data penjualan barang pembuatan laporan hanya dibuatkan secara garis besar yaitu berapa jumlah uang didapat setiap harinya. Selain itu juga ada masalah-masalah lain yang sering muncul seperti hilangnya faktur-faktur pembelian maupun faktur-faktur penjualan yang merupakan bukti-bukti dari transaksi-transaksi yang dilakukan.
Untuk itu perlu dibangun sebuah sistem informasi dan sebuah database yang dapat menampung data dalam jumlah banyak sehingga apabila dilakukan pengaksesan terhadap suatu data akan lebih mudah untuk mendapatkannya dan juga mudah melakukan perhitungan dalam jumlah banyak sehingga informasi yang diperoleh lebih baik dan cepat.
Berdasarkan dari masalah diatas penulis akan memberikan sebuah solusi yang akan dibahas pada uraian dari masing-masing bab dengan judul “ANALISA DAN DESAIN SISTEM INFORMASI PEMBELIAN DAN PENJUALAN BARANG DENGAN APLIKASI VISUAL BASIC 6.0 PADA TOKO X”

1.2 Ruang Lingkup Masalah
Agar penulisan penelitian ini lebih terarah, maka penulis akan memberikan batasan masalah yang akan dibahas sehingga hal ini tidak menyimpang dari tujuan yag hendak dicapai. Pembahasan masalah berorietasi pada penggunaan komputer dalam melakukan pengolahan data pembelian dan penjualan barang pada Toko X, serta menganalisis sistem pengolahan data yang sudah diterapkan selama ini serta kelemahan-kelemahan dari sistem tersebut.
Dalam pembahasan dititik beratkan terhadap penggunaan Visual Basic 6.0 sebagai software aplikasi dalam sistem pembelian dan penjualan barang pada Toko X.

1.3 Rumusan Masalah
Melihat kenyataan seperti yang telah diuraikan pada latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan bahwa masalah yang dihadapi Toko X adalah sebagai berikut :
1. Proses pengolahan data pembelian dan penjualan masih dilakukan secara manual sehingga mengakibatkan kurang efesien dalam mengelola keuangan.
2. Penyimpanan faktur pembelian dan penjualan masih dalam bentuk arsip-arsip, sehingga menyulitkan dalam pencarian kembali suatu dokumen yang diperlukan dan juga keamanannya tidak terjamin.
3. Pengelolaan persediaan hanya berdasarkan perkiraan sehingga menyebabkan keraguan pemilik toko dalam mengambilan keputusan dan kerugian.

1.4 Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka dapat dikemukakan hipotesis bahwa dengan dirancangnya sistem yang baru maka dapat menghasilkan laporan-laporan yang bisa membantu pimpinan dalam mengambil keputusan dan meningkatkan keuntungan juga penyimpanan data secara elektronik akan lebih aman serta dapat meningkatkan efektifitas dan efesiensi kerja.

1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini ada beberapa hal yang hendak dicapai antara lain :
1. Membuat sebuah sistem informasi yang dapat melakukan pengolahan data pembelian dan penjualan barang.
2. Merancang sistem informasi yang dapat menghasilkan laporan-laporan secara terperinci serta memudahan dalam mencari informasi apabila ada pengkoreksian terhadap data tertentu.
3. Membandingkan sejauh mana efesiensi dan efektifitas sistem informasi yang dirancang dengan sistem yang sedang berjalan.
Hasil penelitian ini akan bermanfaat bagi :
1. Peneliti
Dapat menerapkan ilmu yang penulis didapatkan selama kuliah di Universitas X.
2. Pemilik toko
Pemilik toko mengetahui kekurangan-kekurangan sistem yang diterapkan selama ini dan dapat lebih mudah mengambil keputusan untuk meningkatkan keuntungan.
3. Peneliti berikutnya
Lebih mudah memahami sistem informasi yang sedang berjalan sehingga bisa memberikan solusi yang tepat terhadap kekurangan dan kelemahan sistem.

SISTEM INFORMASI PENJUALAN DAN PENERIMAAN KAS PADA PERUSAHAAN ROKOK “X”

Your webmaster search is: judul skripsi akuntansi pada perusahaan jasa

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perusahaan rokok di Indonesia semakin menjamur, walaupun tidak semuanya dikenal oleh seluruh masyarakat Indonesia paling tidak mereka dikenal di daerah asalnya. Semakin banyaknya perusahaan rokok maka persaingan yang ada semakin ketat. Dan persaingan selalu muncul dalam dunia usaha. Dimana setiap perusahaan memiliki kompetensi yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Perusahaan yang memiliki kompetensi yang paling baik akan mampu bertahan dalam dunia persaingan. Hal yang paling mendasar adalah perusahaan harus mengetahui kompetensi yang dimiliknya. Untuk itu perusahaan membutuhkan sejumlah informasi yang akan digunakan sebagai pedoman dan dasar operasional perusahaan. Informasi merupakan data yang telah tersaring, terorganisir, terealisasi, dan saling berhubungan sehingga berguna untuk mencapai tujuan organisasi (Riasetiawan,2004:2).

Setiap perusahaan memiliki tujuan yang berbeda pada saat pertama kali didirikan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari para pendiri perusahaan maupun kondisi lingkungan yang dihadapi pada saat itu. Faktor yang datang dari para pendiri perusahaan antara lain cara pandang, latar belakang pendidikan, budaya, agama. Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan antara lain teknologi, politik, kondisi perekonomian. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa setiap perusahaan memiliki beberapa kesamaan tujuan yaitu mengalami pertumbuhan dan kelangsungan hidup perusahaan.

Untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan perusahaan maka informasi akan dibutuhkan sebagai sarana komunikasi yang utama untuk keperluan pengambilan keputusan dan perumusan kebijakan. Hal ini juga diperlukan perusahaan manufaktur. Perusahaan manufaktur selalu berkecimpung dengan usaha jual menjual, begitu pula perusahaan rokok, yang merupakan salah satu bentuk perusahaan manufaktur. Berbagai strategi dirumuskan dan diterapkan perusahaan untuk meningkatkan penjualan mereka. Untuk mendapatkan informasi yang akurat dan valid maka perusahaan perlu merumuskan suatu sistem informasi, terutama sistem informasi penjualan dan penerimaan kas perusahaan rokok.

Setiap perusahaan memiliki spesifikasi penjualan. Secara garis besar ada tiga macam spesifikasi penjualan yang umum digunakan perusahaan, yaitu berdasarkan jenis produk, petugas penjual, dan wilayah penjualan. Untuk perusahaan rokok “X” memiliki spesifikasi penjualan menurut wilayah penjualan atau lebih sering disebut dengan kanvasser. Alasan perusahaan rokok “X” menerapkan kanvasser karena dianggap strategi paling menguntungkan untuk mereka. Penjualan rokok perusahaan rokok “X” tersebar ke beberapa wilayah, dengan kanvasser akan memudahkan pihak manajemen perusahaan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan. Selain itu dengan kanvasser perusahaan dapat menganalisa pasar penjualannya, pelanggan, penyalur, kebutuhan, selera regional, persediaan, dan kebutuhan lingkungan.

Riasetiawan (2004:2) menyimpulkan kriteria-kriteria informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan sebagai berikut :

  1. Relevan, suatu informasi mempunyai manfaat sebagai dasar pengambilan keputusan
  2. Akurat, ketepatan, dan dapat diandalkannya suatu informasi
  3. Tepat waktu, informasi yang diperoleh terbaru dan mudah diperoleh saat dibutuhkan
  4. Ringkas, informasi telah dikelompokkan sehingga tidak perlu diterangkan
  5. Jelas, tingkat informasi dapat dimengerti oleh penerima
  6. Dapat dikuantifikasi, tingkat informasi dapat dinyatakan dalam bentuk angka
  7. Konsisten, tingkat informasi dapat diperbandingkan.

Sistem informasi penjualan dan penerimaan kas memiliki arti penting bagi perusahaan. Pengelolahan informasi membutuhkan kecepatan dan ketelitian proses, maka perusahaan akan memerlukan sistem informasi penjualan dan penerimaan kas yang sesuai dengan kebutuhan bidang usahanya.

Dalam sistem informasi penjualan dan penerimaan kas mengulas tentang prosedur penjualan dan penerimaan kas, bagian-bagian yang terkait yang terangkai dalam suatu prosedur, formulir-formulir yang digunakan perusahaan, dan penerapan pengendalian internal perusahaan.

Prosedur penjualan dan penerimaan kas merupakan kunci penting dalam pelaksanaan sistem informasi penjualan dan penerimaan kas dalam suatu perusahaan. Baik itu prosedur untuk order penjualan, prosedur pencatatan piutang, prosedur pendistribusian penjualan, dan sebagainya. Pelaksanaan prosedur yang tidak atau kurang sesuai dengan standar yang ditetapkan perusahaan akan menjadi masalah bagi perusahaan, yang nantinya akan mempengaruhi keefektifan dan keefisienan kinerja perusahaan. Tidak adanya prosedur yang seharusnya diterapkan perusahaan merupakan salah satu masalah yang mungkin muncul dalam perusahaan. Ada bagian prosedur yang hilang atau tidak dicantumkan oleh perusahaan rokok “X” ini.

Bagian-bagian terkait yang terangkai dalam suatu prosedur juga merupakan hal penting yang perlu diperhatikan perusahaan. Untuk sistem informasi penjualan dan penerimaan kas ini bagian-bagian yang terkait adalah bagian penjualan, bagian kredit (untuk penjualan kredit), bagian penagihan, bagian akuntansi, dan bagian-bagian terkait lainnya. Dalam pelaksanaannya setiap bagian ini memiliki tugas dan tanggungjawab yang berbeda-beda namun masih saling terkait dengan bagian yang lainnya. Pemisahan bagian-bagian yang terkait secara jelas wajib dijalankan perusahaan, hal ini untuk menghindari terjadinya penggandaan pelaksanaan tanggungjawab. Dalam perusahaan rokok “X” ini ada beberapa bagian yang dijadikan satu, sehingga terjadi penggandaan pelaksanaan tanggungjawab dalam satu bagian.

Begitu juga halnya dengan penggunaan formulir-formulir perusahaan dan penerpan pengendalian internal perusahaan. Formulir-formulir yang digunakan harus mampu memberikan informasi yang dibutuhkan oleh bagian-bagian (fungsi-fungsi) yang ada dalam sistem informasi penjualan dan penerimaan kas perusahaan. Perusahaan rokok “X” ini menggunakan formulir yang berbeda-beda untuk satu fungsi yang sama. Pengendalian internal yang baik juga harus diperhatikan oleh perusahaan. Seperti perusahaan rokok “X” ini, mereka kurang mampu menerapkan pengendalian internal dengan baik.

Keempat hal diatas merupakan hal-hal penting yang harus diperhatikan dan diterapkan oleh perusahaan. Dengan penerapan sistem informasi penjualan dan penerimaan kas tersebut diharapkan dapat memberikan informasi yang berbobot, akurat, dan valid karena akan dijadikan dasar pengambilan keputusan, baik oleh pihak internal maupun eksternal perusahaan.

Dari uraian di atas maka penulis ingin mengetahui lebih jauh mengenai penerapan sistem informasi penjualan dan penerimaan kas dalam perusahaan rokok.

Adapun judul dalam penulisan skripsi ini adalah : “Sistem Informasi Penjualan dan Penerimaan Kas pada Perusahaan Rokok “X”.

1.2 Rumusan Masalah

Penulis mencoba mengkaji sistem informasi akuntansi yang telah digunakan perusahan, serta mengkaji beberapa alternatif sistem informasi akuntansi yang lebih baik dengan mempertimbangkan hasil atau manfaat yang akan diperoleh.

1. Bagaimana penerapan sistem informasi penjualan pada perusahaan rokok “X” ?

a. Bagaimana penerapan prosedur penjualan di perusahaan ?

b. Bagaimana perusahaan memproses dan menggunakan informasi penjualan ?

c. Bagaimana penerapan pengendalian internal penjualan perusahaan ?

2. Bagaimana penerapan sistem informasi penerimaan kas pada perusahaan rokok “X” ?

a. Bagaimana penerapan prosedur penerimaan kas di perusahaan ?

b. Bagaimana perusahaan memproses dan menggunakan informasi penerimaan kas ?

c. Bagaimana penerapan pengendalian internal penerimaan kas perusahaan ?

Skripsi Sistem Informasi Rehabilitasi Panti Jompo Pada Panti Sosial X


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Kebutuhan akan informasi yang cepat, tepat dan akurat merupakan suatu aspek yang sangat penting dalam setiap aktifitas di satu lembaga atau instansi. Pentingnya peranan Teknologi Informasi didalam pengorganisasian sumber daya saat ini semakin terasa, apalagi dengan bertambahnya data, maka pemrosesan data tersebut secara manual akan semakin sulit. Pemrosesan data secara manual yang saat ini masih banyak digunakan oleh instansi-instansi pemerintah maupun swasta memiliki banyak redundansi dan tumpang tindih data, serta kesulitan dalam pengaksesan kembali bila sewaktu-waktu data tersebut di perlukan. Kemudahan, kecepatan dan keakuratan adalah kata kunci sukses sebuah sistem aplikasi. Kata “kemudahan” berkaitan dengan kemudahan penggunaan yang kemudian berkaitan dengan desain Graphical User Interface. Kata kecepatan dan keakuratan data merupakan “efektifitas” dari sistem aplikasi berkaitan dengan bagaimana sebuah hasil pemrosesan data di tampilkan dan diranking (page ranking).
Atas dasar ini, maka sangat diperlukan suatu alat bantu yang dapat melakukan pencatatan dan pemrosesan seluruh data yang dibutuhkan secara cepat, tepat dan dengan mengutamakan informasi keluaran yang dapat dipertanggungjawabkan akurasinya. Skripsi ini akan membahas suatu proses alih teknologi dari sistem informasi manual ke sistem informasi berbasiskan komputer yang diharapkan dapat membantu dan memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi khususnya pada Panti Jompo X.

Di mana pada Panti Jompo X mempunyai fungsi merawat masyarakat lanjut usia. Dalam menjalankan fungsinya pada panti jompo juga menggunakan pegawai dari dinas sosial sebagai tenaga medis dalam merawat warga panti yang sakit. Panti Jompo X sering mendapat kunjungan orang secara pribadi maupun dari organisasi dan mendapatkan sumbangan berupa barang maupun sembako.

Dimana dalam merawat warga yang sakit, Panti Jompo X juga mendatangkan dokter dari dinas kesehatan setempat. Jika ada warga yang sakitnya parah maka perawatan yang dilakukan adalah segera di rujuk ke rumah sakit. Untuk membuat laporan dari semua kegiatan di atas bagian mutasi masih mengalami kesulitan, karena dalam membuatanya masih di lakukan secara manual. Untuk mengatasi kesulitan data sebuah system informasi yang handal dalam menjalankan data warga, mutasi warga, pegawai, paramedis, pengunjung, sumbangan dan data kerabat warga. Sistem ini harus bisa dengan cepat menyajikan laporan yang dibutuhkan oleh kepala UPTD Panti Sosial X ini mempunyai dua panti yaitu panti yang memelihara anak terlantar dan panti yang memelihara para lanjut usia (jompo).


1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan di bahas dalam tugas akhir ini :

1. Bagaimana menghubungkan basis data agar setiap kali data yang di butuhkan dapat dengan cepat di peroleh.

2. Bagaimana mengurangi rangkapnya data (redudansi data) sehingga tidak perlu menghilangkan nilai data seluruhnya.

1.3 Batasan Masalah

Sistem informasi hanya akan mengelola data warga, data pegawai, data dokter, data barang, data dinas, data berobat, data mutasi, data penyumbang, dan data sumbangan.

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari tugas akhir ini adalah merancang sistem informasi yang baru berguna untuk mengatasi masalah pengolahan data dan informasi pada Panti Jompo Panti Sosial X Medan.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dari sistem informasi untuk Panti Jompo ini dapat memudahkan pihak pengguna, dalam hal ini pegawai di Panti Jompo untuk mencari data informasi yang diperlukan.

1.6 Sistematika Penulisan

Dalam menyusun Tugas Akhir, penulis membuat dengan cara bertahap dari bab demi bab untuk memudahkan pemahaman pembaca. Adapun urutannya adalah sebagai berikut :

BAB 1 : PENDAHULUAN

Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang pemilihan judul, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penulisan skripsi.
BAB 2 : TINJAUAN TEORITIS

Bab ini menjelaskan tentang landasan teori yang meliputi pengertian sistem, data, informasi, database dan perancangan sistem yang digunakan. Serta yang menyangkut dengan judul tugas akhir.

BAB 3 : PERANCANGAN SISTEM

Pada bab ini akan membahas tentang perancangan diagram aliran data (DFD) database, input data serta output dan tentang rancangan objek–objek yang akan dibuat ataupun diusulkan dalam aplikasi ini.

BAB 4 : IMPLEMENTASI

Pada bab ini akan di jelaskan tentang pembuatan laporan sebagai hasil akhir dari program aplikasi yang dirancang.

BAB 5 : KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini membahas mengenai kesimpulan dan saran dari keseluruhan rancangan yang penulis lakukan.



BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Seiring dengan pesatnya perkembangan jaman yang sangat mempengaruhi berlangsungnya dunia usaha, sangat erat hubungannya dengan berkembangnya gaya hidup modern yang menuntut efisiensi di segala bidang. Pada saat waktu menjadi komponen yang sangat penting, banyak orang menginginkan segala sesuatunya menjadi serba praktis.

Kemasan merupakan suatu hal yang dapat menjadikan segala sesuatunya menjadi lebih praktis. Peluang usaha dibidang kemasan bukan hanya sangat menguntungkan tetapi juga sangat memungkinkan untuk dikembangkan seluasluasnya. Perkembangan kemasan yang dari waktu ke waktu semakin baik dan dapat digunakan untuk segala macam produk seperti makanan, kosmetik, bahan kimia maupun obat-obatan. Dengan segala teknik dan proses pembuatan yang lebih maju sehingga dapat menyediakan kemasaan yang lebih berkualitas, higienis dan tahan lama. Semakin banyaknya industri mie instan di Indonesia, semakin hebat pula persaingan diantara industri mie instan itu sendiri, sehingga untuk menarik konsumen membeli hasil produk dari perusahaan tersebut, diperlukan suatu tahap awal yang merupakan kemasan yang sesuai dengan keinginan konsumen. Dengan adanya kemasan yang sesuai dengan keinginan konsumen, tentunya para konsumen merasa tertarik untuk membeli produk tersebut. Selain itu isi dari suatu produk juga sangat penting dalam menentukan banyaknya pembelian ulang akan suatu produk.

Untuk menarik perhatian konsumen diperlukan suatu rancangan kemasan yang baik, berkualitas dan sesuai dengan keinginan para konsumen itu sendiri. Rancangan kemasan yang baik akan membuat para konsumen berkeinginan untuk mencoba produk yang ditawarkan. Dan suatu produk yang baik belum tentu dibeli oleh para konsumen jika kemasan yang dipakainya tidak menarik dan baik. Suatu produk akan berguna apabila sampai pada sasarannya dan sesuai dengan keinginan konsumen. Berbagai cara dilakukan oleh produsen untuk dapat menembus pasar. Hal ini cukup sulit dilakukan bila kita tidak mengetahui bagaimana persepsi pasar dan bagimana produk yang diinginkan oleh konsumen. Produk yang dibeli oleh konsumen bukan hanya isi dari produknya saja tetapi kualitas dan kemasan dari produk itu juga sangat mempengaruhi daya beli dari konsumen tersebut. Kualitas dari suatu produk sangat erat hubungannya dengan kemasan dari produk itu sendiri. Kemasan yang baik dan sesuai akan membuat produk tersebut higienis dan tahan lama. Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah informasi yang diberikan untuk barang yang akan dikonsumenkan, yang biasanya dicantumkan pada kemasan seperti merk, bahan kandungan, berat isi, rancangannya dan lain sebagainya. Kenyataan ini mendorong para produsen yang terlibat untuk menarik perhatian konsumen atau calon konsumen. Seperti yang diungkapkan Kevin dan Peterson (1995: 1-15), tujuan utama pemasaran adalah menciptakan hubungan interaksi jangka panjang yang dapat mengembangkan antara organisasi dan publik (industri dan organisasi) Salah satu cara agar tercipta hubungan interaksi antara produsen dan konsumen adalah melalui kemasan produk.

Disini mulai tampak betapa pentingnya peran kemasan, sebagai salah satu cara sumber informasi yang diperlukan konsumen untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan akan suatu produk. Kemasan diperlukan saat manusia akan melakukan pemilihan suatu produk yang akan dikonsumsi, dengan kata lain kemasan dapat dianggap sebagai media promosi yang dapat digunakan untuk pemasaran suatu produk.

Kemasan yang dapat dianggap sebagai media promosi harus dirancang dalam dua aspek pokok, yaitu : aspek informasi dan aspek persuasi. Kemasan dirancang untuk dapat komunikatif dengan kelompok sasaran yang ditujunya sehingga kemasan harus dirancang sedemikian rupa agar sepadan dengan sikap, keyakinan, tradisi dan budaya kelompok tersebut. Kemasan sebagai sarana komunikasi antara produsen dengan konsumen, maka prinsip komunikasi yang dituntut dari pihak komunikator seperti keterbukaan, kejujuran, tanggapan terhadap umpan balik, harus ditetapkan secara konsisten. Selain aspek diatas, ada satu aspek lain yang tidak kalah pentingnya yaitu aspek higienis, dimana suatu produk terutama produk makanan harus terjamin kebersihan isi produknya dan dapat tahan lama (tidak cepat rusak). Aspek inipun harap diperhatikan karena akan merupakan faktor pemilihan produk sesuai dengan keinginan konsumen

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimana persepsi konsumen terhadap fungsi kemasan mie instan?
  2. Apakah ada hubungan antara fungsi kemasan mie instan dengan pembelian mie nstan?
  3. Seberapa besar pengaruh fungsi kemasan terhadap pembelian mie instan?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui :

    1. Persepsi konsumen terhadap fungsi kemasan mie instant
    2. Hubungan antara fungsi kemasan mie instan dengan pembelian mie instant
    3. Pengaruh fungsi kemasan terhadap pembelian mie instan

D. Kegunaan Penelitian

Kegunaan yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Dapat memberikan kontribusi terhadap ilmu pengetahuan, khususnya dalam upaya penggalian konsep fungsi kemasan dan peningkatan pembelian mie instan.

2. Dapat memberikan saran tindak lanjut dalam rangka meningkatkan penjualan

3. Mie instan dengan meningkatkan fungsi kemasan.

E. Hipotesis

1. Hipotesis 1 : Konsumen menganggap penting fungsi kemasan

2. Hipotesi2 : Terdapat hubungan positif dan signifikan antara fungsi kemasan dengan peningkatan pembelian mie instant

3. Hipotesis 3 : Terdapat pengaruh positif dan signifikan fungsi kemasan terhadap peningkatan pembelian mie instan

BAB II

STUDI PUSTAKA

A. Pengertian Persepsi

Perception is a person’s view of reality (Luthans, 1991: 347). Persepsi merupakan tatanan proses yang menjadikan sesorang menyadari dan melakukan interpretasi terhadap lingkungan. Melalui persepsi seseorang melakukan seleksi, menyusun dan mengolah informasi yang diserap oleh panca indera serta melakukan penafsiran agar dapat memahami dan memberikan tanggapan terhadap lingkungan (Greenberg, 1993: 41), jadi persepsi terdiri dari beberapa proses yang sebenarnya dapat dibedakan : kesadaran, pengenalan, interpretasi dan tanggapan. Pada dasarnya persepsi berkaitan dengan karakteristik objek yang dipersepsi, individu yang melakukan persepsi dan proses situational. Seseorang yang termotivasi akan siap bereaksi. Bagaimana orang yang telah dimotivasi ini bertindak adalah dipengaruhi oleh persepsinya mengenai situasi. Dua orang yang dalam keadaan sama termotivasi dan dalam situasi objektif yang sama pula akan bertindak sangat berbeda. Mengapa orang mempunyai persepsi yang berbeda pada situasi yang sama, karena kita semua menangkap suatu rangsangan objek melalaui sensasi, yaitu aliran informasi melalui panca indera kita yaitu : penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba dan perasa. Akan tetapi setiap orang menangkap, menyusun dan menafsirkan informasi tersebut dengan caranya sendiri. Menurut Kotler (2002:198) bahwa persepsi adalah proses yang digunakan oleh sesorang/individu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi masukan-masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti. Sebaliknya, menurut Stanton (1981: 107) persepsi memiliki arti yang melekat pada rangsangan (stimulus) yang kita terima melalui panca indera kita berdasarkan pengalaman pada masa lalu. Persepsi dibentuk oleh tiga kelompok yang menpengaruhi yaitu :

  1. Karakteristik fisik
  2. Hubungan antara stimulus dan lingkungan sekitarnya dan
  3. Kondisi-kondisi di antara kita sendiri.

Persepsi tidak hanya tergantung pada karakter rangsangan fisik, tetapi juga ada hubungan rangsangan tersebut dengan keadaan sekitar dan kondisi dalam individu itu sendiri. Setiap orang akan memberikan persepsi yang berbeda terhadap rangsangan yang sama karena ketiga proses persepsi, yaitu eksposur selektif, distorsi selektif, dan retensi selektif.

1. Eksposur Selektif

Orang dihadapkan pada sejumlah besar rangsangan setiap hari dalam kehidupannya. Meskipun hal ini dibatasi pada rangsangan komersial, akan tetapi rata-rata orang dihadapkan pada lebih dari 1500 iklan setiap hari. Adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk mengikuti semua rangsangan ini. Kebanyakan rangsangan ini akan lewat penyaringan. Yang menarik sesungguhnya adalah menjelaskan rangsangan manakah yang akan diperhatikan orang. Eksposur selektif berarti bahwa pemasar harus bekerja secara tepat untuk menarik perhatian konsumen. Pesan yang mereka sampaikan akan hilang pada sebagian besar orang yang tidak ada dalam pasar untuk produk tersebut. Bahkan orang yang ada dalam pasar mungkin tidak memperhatikan pesan mereka kalau pesan itu berada di luar wilayah rangsangan. Kemasan dan iklan yang menarik atau menggunakan empat warna di mana sebagian besar menggunakan warna yang kontras seperti hitam dan putih, akan lebih diperhatikan.

2. Distorsi Selektif

Bahkan rangsangan yang menarik perhatian konsumen itu tidak selalu datang dari arah yang diinginkan. Tiap orang mencoba mencocokkan informasi yang masuk ke dalam pandangannya. Distorsi selektif menggambarkan kecenderungan orang untuk merakit informasi ke dalam pengertian pribadi. Orang cenderung menafsirkan informasi dengan cara yang lebih mendukung daripada menentang prakonsepsi mereka.

1. Retensi Selektif

Orang akan melupakan banyak apa yang mereka telah pelajari. Mereka cenderung menahan informasi yang mendukung sikap dan kepercayaan mereka. Karena retensi selektif, orang akan mengingat keunggulan yang disebutkan oleh suatu produk tertentu dan melupakan keunggulan yang dinyatakan oleh produk pesaing. Faktor persepsi ini (eksposur, distorsi dan retensi selektif) mengandung arti bahwa para pemasar harus bekerja keras untuk menyampaikan pesan yang tepat. Ini menjelaskan bahwa mengapa pemasar penting menggunakan banyak penonjolan dan berulangkali dalam mengirimkan pesan mereka kepada pasar.

3. Pengorganisasian Persepsi

Pengorganisasian adalah aspek penting dari persepsi. Satu prinsip paling penting dalam mengatur persepsi adalah kecenderungan untuk membuat pola rangsangan dikaitkan dengan hubungan gambar dan latar belakang. Tidak semua rangsangan mencapai kesadaran seseorang dengan kejelasan yang sama. Faktor yang difokuskan dinamakan gambar, sedang yang dialami dinamakan latar belakang. Pengorganisasian persepsi juga jelas terlihat ketika rangsangan yang sama dikelompokkan bersama dan ketika rangsangan yang dekat ikelompokkan. Prinsip pengelompokkan yang lain yang membentuk pengaturan persepsi dinamakan closure (penutupan) (kecenderungan untuk dekat dengan suatu bagian yang hilang). Beberapa individu mempunyai keinginan yang kuat untuk melengkapi sebuah konfigurasi, kerja atau proyek. Hal ini penting di tampat kerja, misalnya mencegah seseorang dengan keinginan yang kuat untuk menyelesaikan pekerjaan atau tugas dapat membuat frustasi atau perilaku lebih dratis, seperti keluar dari pekerjaan.

4. Faktor Situasional

Tekanan waktu, sikap orang dan semua faktor situasional lain akan mempengaruhi ketepatan persepsi. Jika seseorang ditekan oleh waktu dan akan memenuhi sebuah permintaan secepatnya, persepsinya dipengaruhi oleh kendala waktu. Tekanan waktu kadang-kadang membuat seseorang melihat beberapa rincian, mempercepat aktivitas tertentu, dan mengabaikan ransangan.

5. Kebutuhan

Persepsi dipengaruhi secara nyata oleh kebutuhan dan keinginan. Dengan kata lain setiap orang ingin melihat apa yang mereka ingin lihat dan kebutuhan dapat menditorsi dunia yang dilihat oleh mereka.

6. Perasaan atau Emosi

Keadaan emosi seseorang mempunyai banyak segi dikaitkan dengan persepsi. Emosi yang kuat, seperti tidak senang sama sekali terhadap kebijakan tertentu, dapat membuat seseorang memandang negatif terhadap kebijakaan tertentu. Menentukan keadaan emosional seseorang memang sulit, oleh karena itu emosi yang kuat sering mengganggu persepsi, setiap orang perlu membedakan topik atau praktik-praktik yang memicu emosi yang kuat pada orang lain.

7. Sikap dan Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja adalah suatu sikap yang dipunyai individu mengenai pekerjaannya. Hal ini dihasilkan dari persepsi mereka terhadap pekerjaannya, didasarkan pada faktor lingkungan kerja.

B. Kemasan

Semua bentuk produk fisik yang akan dijual di pasar harus diberi kemasan. Biasanya setelah manajemen puas terhadap suatu fungsi produk dan psikologinya, produk tersebut sudah siap diberikan kemasan yang sesuai dengan produk tersebut dan setelah itu dilakukan test terhadap konsumen. Kemasan memegang peranan yang kecil apabila produk yang dikemas berupa produk perangkat keras yang murah dan kuat tapi apabila yang dikemas berupa produk mahal yang mudah rusak, akan memegang peranan yang sangat besar (seperti kosmetik). Banyak para marketer menjadikan kemasan (Packaging) sebagai P kelima setelah Price, Product, Place dan Promotion, serta sebagian besar dari mereka menganggap kemasan sebagai suatu elemen dari strategi produk. Kemasan dapat didefinisikan sebagai aktifitas-aktifitas dalam merancang dan membuat pembungkus untuk suatu produk (Kotler, 2002:476-477). Pembungkus itulah yang kita sebut sebagai kemasan. Dalam membungkus suatu produk mungkin akan menggunakan sampai tiga tingkat kemasan seperti untuk kosmetik, kemasan pertama adalah kemasan plastik, kemasan kedua adalah kemasan dus dan kemasan ketiga adalah kemasan dus besar yang terdiri dari beberapa produk. Dalam waktu dekat, kemasan akan menjadi suatu alat pemasaran yang potensial. Kemasan yang dirancang dengan baik dapat menimbulkan nilai kenyamanan (convenience value) bagi konsumen dan nilai promosi (promotion value) bagi pembuat produk. Menurut Philip Kotler (2002:476) faktor-faktor yang dapat digunakan untuk pengembangan kemasan sebagai suatu alat marketing yaitu :

  1. Self-Service (Melayani sendiri): Terjadi peningkatan penjualan dari produk yang dijual dengan cara Self-Service pada supermarket di Amerika. Secara rata-rata supermarket yang memiliki stok 15000 produk di Amerika dapat menjual sebanyak 300 produk per menit.
  2. Consumer Affluences : Pembeli akan bersedia membayar lebih untuk mendapatkan kenyamanan, penampilan bagus dan gengsi dari kemasan yang baik.
  3. Company and Brand image : Perusahaan akan melakukan pengenalan dari suatu rancangan kemasan yang baik dan dikonstribusikan sehingga konsumen dapat langsung mengenali suatu merk produk atau perusahaan tersebut. Sebagai contoh perusahaan The Campbell Soup di Amerika memperkirakan kurang lebih konsumen di Amerika akan melihat kemasan produk mereka yang berwarna merah dan putih sebanyak 76 kali setahun, ini setara dengan iklan sebesar US$26 juta.
  4. Innovation Opportunity : Kemasan yang innovatif akan memberikan keuntungan yang besar bagi konsumen dan produsen. Sebagai contoh penjualan pasta gigi dengan pompa dispenser mencapai 12% dari seluruh penjualan pasta gigi di Amerika karena mereka merasa lebih nyaman dalam menggunakan pasta gigi tersebut. Dan perusahaan minuman ringan yang menggunakan pop-top can pertama akan menarik banyak pelanggan yang baru.

Merancang kemasan effektif bagi produk baru memerlukan beberapa keputusan (Kotler, 2002:477). Keputusan pertama adalah konsep kemasan. Konsep kemasan yang dimaksud adalah apa kemasan yang seharusnya secara dasar atau yang harus dilakukan untuk suatu produk haruskah fungsi-fungsi utama kemasan ditawarkan untuk mempertahankan produk superior, mengenalkan suatu metode, menyarankan kualitas terhadap produk atau perusahaan. Keputusan harus dibuat berdasarkan elemen-elemen kemasan seperti ukuran, bentuk, bahan, warna, text, merk. Keputusan harus dibuat berdasarkan penggunaan kata-kata yang besar atau kecil, menggunakan bahan cellophane atau plastik transparan yang lain dan elemen lainnya. Setiap variasi elemen-elemen kemasan harus harmonis dan sesuai. Ukuran kemasan berhubungan dengan bahan, warna, bentuk, text dan merk. Elemen-elemen kemasan juga harus harmonis dan sesuai dengan harga, iklan dan marketing elemen lainnya. Setelah kemasan dirancang, kemasan harus ditest. Teknik pengetesan diperlukan seperti kemasan dapat berdiri pada kondisi normal, test visual, untuk meyakinkan text sudah sesuai serta warna harmonis, test dealer, easy to handle, dan test konsumen. Merancang kemasan yang effektif akan memerlukan biaya yang tidak

sedikit dan memakan waktu beberapa bulan sampai setahun.

C. Produk Kemasan

Pada saat ini di Indonesia sudah banyak bermacam-macam kemasan yang diproduksi. Setiap macam bahan mempunyai sifat-sifat tertentu dan kegunaannya juga tertentu. Jadi sangat tergantung dari produk yang akan dikemas dan sesuai dengan pasar yang akan dituju. Sebelum menentukan kemasan, perlu diketahui perbedaan dasar dari bahan-bahan kemasan, sifat-sifatnya dan interaksi antara produk dan kemasan. Berikut ini adalah bahan-bahan kemasan dasar yang sering digunakan :

1. Kertas dan Karton

Kertas dapat dibuat terutama dari serat-serat kayu, ampas tebu, kapas dan jerami. Pabrik-pabrik modern pada umumnya membuat kertas dari kayu. Kayu dijadikan bubur kertas atau pulp dan pemutihan dapat dilakukan dengan cara klorinasi. Untuk bahan kemasan, bubur kertas biasanya dicampur dengan bahan kertas bekas agar diperoleh harga yang ekonomis. International Standard Organizations mendifinisikan kertas dengan berat kurang dari 250 gram per meter persegi dan jika lebih dari itu disebut karton. Untuk pengemasan, kertas digunakan antara lain sebagai :

  • label atau etiket
  • leaflet atau brosur
  • pembungkus.

Beberapa macam kertas yang banyak digunakan untuk kemasan

adalah :

  • Kertas tisu : untuk melapisi / melindungi barang-barang kerajinan yang permukaannya licin atau mengkilap.
  • Art Paper : permukaannya cukup halus dan menghasilkan cetakan yang

bagus.

  • Chrome Coated Paper : permukaan halus dan mengkilat, hasil cetakannya lebih bagus dari art paper.
  • Kraft Paper / Medium Paper : warnanya umumnya coklat tetapi juga dapat juga berwarna putih jika di-bleach (dikelantang). Kertas jenis ini banyak digunakan untuk membuat kotak karton gelombang (KKG).
  • Kertas HVS : biasanya digunakan untuk brosur atau leaflet. Permukaan kertasnya lebih kasar jika dibandingkan dengan kertas art paper.

2. Plat Baja Lapis Timah (Kaleng)

Kaleng yang dikenal selama ini terbuat +/- 99.9% adalah baja, 0.05% - 0.07% adalah lapisan timah putih pada bagian luar dan dalam, selebihnya adalah lubricant. Untuk membuat kaleng konvensional diperlukan badan kaleng, dasar kaleng dan penutup. Badan kaleng dapat disatukan dengan cara disolder, dilas atau disemen. Jenis kaleng yang disolder dengan timah hitam di negara maju sudah ditinggalkan, yang ada hanyalah dilas dan disemen. Kaleng dengan cara disemen dekorasinya dapat dilakukan dengan penuh, sedangkan yang dilas +/- 5 mm harus bebas dari dekorasi atau cetakan. Kaleng two piece can, badan dan tutup, banyak digunakan untuk kemasan ikan sardine dan makanan yang siap masak lainnya. Kaleng-kaleng two piece can ini tidak dapat dibuat cukup tinggi, kecuali jika dibuat dari alumunium seperti kaleng untuk minuman ringan. Untuk lebih menahan karat, kaleng biasanya bagian dalamnya divernis.

3. Kemasan Gelas

Gelas untuk kemasan pada umumnya terutama dibuat dengan mencampurkan pasir kuarsa dan soda. Kedua unsur utama tadi berikut campuran lainnya dipanaskan hingga mencair pada temperatur tinggi. Setelah melalui cetakan terbentuk wadah gelas, proses selanjutnya adalah anealing, dimana penurunan panas dilakukan secara bertahap agar wadah gelas tidak pecah setelah terbentuk. Untuk kemasan banyak digunakan gelas berwarna coklat atau amber, netral atau flint dan gelas berwarna hijau. Untuk produk-produk farmasi banyak digunakan gelas borosilikat. Gelas ini lebih mahal karena diproses dua tahap, setelah dicairkan dibentuk tabung berupa pipa, baru dengan cara pemanasan kembali dibentuk menjadi botol. Botol gelas tahan terhadap asam dan basa. Kerugian kemasan gelas adalah mudah pecah dan relatif berat jika dibandingkan dengan kemasan plastik.

4. Plastik

Plastik artinya dapat kembali, jika wadah plastik dipanaskan ia akan mencair menjadi bahan plastik kembali. Biji plastik disebut juga granule atau resin. Resin dapat diberi pewarna agar kemasan yang diperoleh berwarna. Tidak semua jenis plastik digunakan untuk kemasn, yang banyak digunakan adalah :

  • PE : Polyethylene
  • LDPE : Low Density Polyethylene
  • HDPE : High Density Polyethylene
  • PVC : Poly Vinyl Chloride
  • PS : Poly Styrene
  • EPS : Expanded Poly Styrene
  • PU : Poly Urethane
  • PP : Poly Propylene
  • PET : Polyesther

Perbandingan kemasan kaku dan kemasan fleksibel selengkapnya dapat dilihat pada Ember PE Film Satu lapis Cup air minum PP Kantong atau beberapa Wadah obat PS Coaling lapis film plastic Wadah bahan kimia PVC Laminasi alumunium foil Wadah makanan PET Tube dan lain-lain Kemasan Kaku Bentuk Bahan Baku Bahan BakuBentuk

Kemasan Fleksibel Kemasan Plastik Perbandingan Kemasan Kaku dan Kemasan Fleksibel

5. Kemasan Fleksibel

Menurut “Fundamental of Packaging Technology, Walter Soroka”, kemasan fleksibel adalah kemasan atau wadah yang terbuat dari bahan lentur atau bahan yang mudah dibentuk, dan apabila diisi dan ditutup dapat dengan mudah diubah-ubah bentuknya. Kemasan yang termasuk golongan ini adalah kantong, amplop, sachet atau kemasan yang terbuat dari bahan dengan etebalan berkisar antara 10 sampai 70 mikron seperti kertas, film plastik, alumunium foil atau kombinasi bahan-bahan ini. Kemasan fleksibel dapat terdiri dari satu lapisan atau terdiri dari beberapa lapisan dengan melaminasi beberapa komponen. Tujuan laminasi ialah mengambil keunggulan dari sifat positif dari suatu bahan. Misalnya alumunium foil merupakan penahan uap air dan sinar matahari yang baik. Untuk dapat dijadikan kantong atau sachet harus dikombinasikan dengan polyethylene. Untuk mendapatkan kekakuan yang lebih tinggi biasanya kombinasi alumunium dengan polyethylene tadi dapat digabung dengan polyesther hingga menjadi PET/PE/AL/PE dan terbentuklah kantong atau sachet yang baik. Sejarah kemasan fleksibel sebagai bahan kemasan baru dimulai pada awal abad ini melalui tiga tonggak utama. 1910 – 1915 : Penemuan gulungan alumunium foil dan pelapisan dengan kertas 1920-an : Perkembangan cellophane. 1960-an : Film PE (Polyethylene) memasuki pasaran.

D. Fungsi dan Peran Kemasan (Sumber : IPI, 1999)

Kemasan mempunyai 2 fungsi utama yaitu :

  1. Melindungi barang atau produk dari produsen sampai konsumen akhir, sehingga konsumen dapat menerimanya dalam keadaan utuh, segar dan tidak rusak. Dengan demikian konsumen di Irian Jaya atau pendalaman Kalimantan dapat menikmati barang sama seperti konsumen di Jakarta atau Surabaya.
  2. Nilai tambah dan pemasaran. Dalam sistem pasar yang modern, seperti swalayan, tidak ada pramuniaga, tetapi promosi dilakukan oleh kemasan. Karenanya penampilan kemasan harus menarik sehingga dapat meningkatkan citra dan nilai tambah serta mendorong pemasaran sesuai segmen pasar yang dituju.

a. Fungsi perlindungan

Berbagai bahan kemasan dapat digunakan sebagai kemasan untuk melindungi terhadap faktor-faktor yang merusak, namun bahan perlindungan apa yang akan dipilih tergantung dari ciri dan sifat-sifat makanan atau bahan yang akan dilindungi. Makanan dan barang lainnya harus dilindungi karena terdapat banyak faktor-faktor yang dapat merusaknya. Perlindungan dilakukan terhadap 2 faktor penting yaitu :

b. Perlindungan terhadap iklim

Iklim merusak makanan / minuman dan barang-barang lainnya bahkan manusia sendiri menjadi rusak dan menjadi tua oleh proses oksidasi iklim. Pada umumnya perlu diadakan perlindungan terhadap :

(1) Uap air

Dalam udara terdapat uap air dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Pada musim hujan kadar uap air meningkat. Di Negara tropis kadar uap air udara lebih tinggi dibandingkan dengan Negara beriklim dingin. Makanan kering seperti biscuit, roti, susu bubuk dapat menyerap uap air, sehingga kadar uap airnya meningkat. Hal ini menarik tumbuhnya jamur dan bakteri sehingga dapat merusak makanan itu seperti warna makanan berubah dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Di negara tropis kerusakan terhadap makanan lebih cepat dibandingkan dengan di negara dingin, dan di musim hujan makanan lebih cepat rusak dibandingkan di musim panas.

(2) Oksigen dan cahaya

Oksigen dan cahaya dapat merusak terutama terhadap makanan yang berlemak karena proses oksidasi. Makanan seperti mentega, keju dan minyak akan menjadi tengik dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Untuk makanan kering seperti susu bubuk dan biskuit, perlindungan terhadap uap air harus ketat dan biasanya dipergunakan kaleng atau Al-foil. Kaleng dan Al-foil bersifat memberi perlindungan hampir 100% terhadap uap air dan oksigen karena tidak dapat ditembus (high barrier). Untuk bahan makanan tidak kering dapat dipergunakan plastik yang higienis (food grade) yaitu di mana tidak terdapat

migrasi zat kimia dari plastik makanan yang dikemas. Bahan plastic masih dapat ditembus uap air walaupun tidak seberapa tergantung dari plastik yang dipergunakan.

c. Perlindungan terhadap faktor-faktor mekanis

Dalam sistem distribusi yang panjang dari produsen sampai konsumen dapat terjadi kerusakan-kerusakan oleh faktor-faktor mekanis seperti :

(1) Dalam transportasi mempergunakan truk melalui jalan rusak dan berlobang, dapat terjadi goncangan dan vibrasi yang merusak.

(2) Penanganan (handling) yang kasar dan buruk dari tenaga-tenaga manusia dapat menyebabkan kerusakan, karena jatuh atau dibanting. Hal ini dapat terjadi pada saat memindahkan barang dari truk ke gudang atau sebaliknya.

(3) Penyimpanan di gudang dapat terjadi kerusakan jika terjadi penumpukan yang salah, gudang basah dan lantai gudang tidak rata. Perlindungan dalam sistem distribusi dari produsen sampai konsumen akhir dapat diupayakan dengan menggunakan kemasan transport seperti kotak-kotak karton. Kotak-kotak karton dipergunakan karena memiliki keuntungan-keuntungan seperti ringan sehingga biaya transport dapat murah, dapat dibuat dalam berbagai bentuk dan ukuran dan mudah dicetak. Untuk menghindari kerusakan dalam transport dan penanganan (handling), pada kemasan transport diberikan kode-kode gambar yang berlaku secara internasional. Bahasa yang dipakai adalah Inggris jika untuk eksport atau bahasa negara tujuan eksport.

Ballet dapat dipergunakan untuk mengurangi penanganan dengan tenaga manusia dan dengan demikian dapat mengurangi kemungkinan kerusakan. Kemasan ditumpuk di atas pallet dan diikat. Pallet mempunyai ukuran-ukuran standar sehingga untuk mpergunakan pallet secara

effisien, kemasan juga sebaiknya harus distandarisasi. Container dipergunakan untuk menghindari kerusakan dalam penanganan (handling) dan meningkatkan effisiensi dalam transport sehingga menekan biaya transport.

d. Fungsi nilai tambah dan pemasaran

Pada pasar-pasar modern seperti pasar swalayan, kemasan harus dapat bersaing dan mempromosikan diri pada konsumen. Dengan informasi yang jelas dan penampilan yang menarik, kemasan dapat meningkatkan citra dan nilai tambah barang yang dikemas dan mendorong pemasarannya. Sesuai dengan perkembangan di masyarakat, kemasan pun harus menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat seperti :

- Suami istri yang bekerja dan makan di luar.

- Konsumen lebih kritis dan menginginkan kualitas barang sesuai

harga yang dibayar. Dengan adanya perubahan-perubahan di masyarakat ini terjadilah

perubahan-perubahan pada kemasan sesuai dengan fungsi kemasan berikut

ini :

e. Informasi

(1) Kemasan memberi informasi yang jelas mengenai isinya, tanpa mengelabui konsumen.

22

(2) Memberi informasi yang jelas mengenai komposisi makanan dan cara pemakaian, sehingga konsumen dapat memilih makanan yang tidak merugikan kesehatannya.

(3) Memberi informasi mengenai berat atau volume bahan yang dikemas.

(4) Memberi informasi mengenai nama dan alamat produsen.

f. Kemudahan (convenience)

Adapun salah satu alasan masyarakat menggunakan kemasan adalah menginginkan sesuatu menjadi lebih mudah. Kemudahan yang diinginkan oleh masyarakat antara lain seperti :

(1) Mudah dalam membuka. Kemudahan dalam membuka kemasan sangat diperlukan oleh pengguna kemasan. Misalnya pada kemasan cup jelly, apabila tutup cup sulit dibuka maka dapat menyebabkan isi jelly akan tumpah pada saat membuka dan mengotori pakaian. Dan biasanya pembeli jelly cup adalah anak kecil. Contoh lain seperti pada kemasan sambal fried chicken, kemasan sambal biasanya diberikan suatu kemudahan dalam membukanya, seperti diberikan potongan berbentuk huruf v pada salah satu sisinya atau biasanya oleh para pembuat kemasan disebut sebagai “v cut”.

(2) Mudah dalam menutup kembali. Kadang-kadang dalam membeli suatu produk, kita tidak menggunakan produk tersebut sekaligus habis tetapi dipergunakan atau dikonsumsi beberapa kali, sehingga kita memerlukan suatu kemasan yang dapat ditutup kembali. Seperti dalam membeli produk biscuit, kita tidak memakannya sekaligus tapi untuk beberapa kali sehingga diperlukan kemasan yang dapat ditutup kembali dan dapat menjamin produk tersebut tidak rusak untuk penggunaan selanjutnya Biasanya untuk biscuit dipergunakan bahan alumunium foil yang dapat dilipat pada ujungnya pada saat menutup kemasan tersebut.

(3) Kemudahan dalam membawa. Kemasan memberikan fungsi kemudahan dalam membawa suatu produk. Dapat kita bayangkan apabila kita membeli suatu produk tanpa ada kemasannya,, kita akan sulit dalam membawanya. Seperti dalam kemasan deterjen, dipergunakan suatu kemasan yang kuat dan diberi pegangan pada bagian atasnya agar mudah dalam membawanya.

g. Pemasaran

Kemasan dapat berfungsi sebagai alat promosi untuk memperkenalkan suatu produk dan memberikan suatu identitas pada setiap produknya. Untuk memperkenalkan suatu produk, kemasan dapat dirancang dengan menggunakan ukuran, bentuk, bahan, warna, gambar dan text yang dapat menarik orang sehingga tertarik untuk membeli. Sesuai dengan perkembangan jaman yang menginginkan sesuatu menjadi lebih praktis, banyak bentuk kemasan dibuat menjadi lebih kecil, hanya cukup untuk satu orang sehingga lebih bervariasi dan harga lebih terjangkau Sesuai segmen pasar yang dituju, kemasan dapat mempergunakan warna, gambar dan text yang bertujuan menarik perhatian konsumen

seperti:

  • Untuk segmen pasar anak-anak diberikan warna-warna cerah dan gambar-gambar yang lucu.
  • Untuk segmen pasar wanita diberikan warna-warna lembut dan bergambar wanita cantik.
  • Untuk pasar ekspor warna-warna yang dipergunakan disesuaikan dengan selera konsumen luar negeri dengan memperhatikan budaya dan tradisi setempat. Seperti untuk negara Cina, warna yang disukai adalah merah dan warna yang tidak disukai adalah hitam, dan untuk negara Eropa, warna yang disukai adalah warna-warna lembut seperti warna pastel.

E. Kerangka Pemikiran

Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda terhadap suatu produk karena menurut Kotler (1996: 219) kita memandang suatu objek secara stimuli melalui sensasi-sensasi yang mengalir melalui kelima indera kita : mata, telinga, hidung, kulit dan lidah. Namun demikian setiap orang mengikuti, mengatur dan menafsirkan data sensoris ini menurut cara masing-masing dan juga persepsi tidak hanya tergantung pada stimulus fisik saja tetapi juga pada stimulus yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu tersebut. Kemasan yang baik adalah kemasan yang memiliki dan memenuhi fungsifungsi yang sesuai dengan persepsi konsumen untuk produk tersebut. Seringkali kita menganggap bahwa kemasan itu hanya sebagai alat pembungkus suatu produk saja dan tidak dirancang sesuai dengan fungsinya. Dalam merancang suatu kemasan untuk suatu produk baru diperlukan suatu survey atau penelitian sehingga kemasan itu sesuai dengan fungsinya dan sesuai dengan persepsi konsumen yang akan membeli produk tersebut. Kemasan fleksibel adalah kemasan yang banyak dipilih oleh konsumen dan produsen dibandingkan dengan bentuk kemasan yang lain. Berdasarkan sumber survei yang dilakukan oleh Wide-Web packaging printing, Comexi S.A. Joseph Roca (1997), pangsa pasar produk yang menggunakan kemasan fleksibel mencapai 35% dari keseluruhan pangsa pasar kemasan. Dan jumlah total penjualan untuk kemasan fleksibel dari negara Australia, New Zealand, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, India dan Cina secara keseluruhan menncapai US$12.762.000.000 pada tahun 1996 dan diperkirakan pada tahun tahun 2001 akan mencapai US$17.396.600.000. Berdasarkan data tersebut di atas, maka dilakukan penelitian mengenai pengaruh fungsi kemasan terhadap peningkatan pembelian mie instan di Kota Bogor. Namun tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan penelitian lanjutannya terhadap kemasan lainnya. Berdasarkan uraian pada kerangka teoritis dan pemahaman diatas maka fungsi kemasan dalam penelitian ini terdiri atas : fungsi perlindungan terhadap iklim, fungsi perlindungan terhadap faktor mekanis, fungsi informasi, fungsi kemudahan, dan fungsi pemasaran. Selanjutnya faktor peningkatan pembelian mie yang diduga berhubungan atau juga dipengaruhi oleh fungsi kemasan. Berdasarkan hal tersebut maka kerangka pemikiran selengkapnya dapat dilihat pada

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar